Yogyakarta — Memasuki hari kedua, Kamis (12/02/2026), Workshop Penguatan Daya Saing Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menghadirkan narasumber Dr. Sutirman, M.Pd., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Beliau menyampaikan materi bertajuk “Strategic Leadership: Transformasi Tata Kelola dan Inovasi Akademik FEB Menuju Keunggulan Berkelanjutan di Era Siber 2030.”
Dalam paparannya, Dr. Sutirman menggambarkan lanskap pendidikan tinggi ekonomi periode 2026–2030 yang tengah memasuki era post-digital. Menurutnya, dunia kini tidak lagi sekadar menggunakan teknologi sebagai alat bantu, melainkan telah menjadikannya sebagai lingkungan hidup (environment) yang membentuk pola pikir, budaya kerja, dan sistem organisasi.
“Kita tidak lagi berbicara tentang digitalisasi sebagai proyek, tetapi sebagai ekosistem. Kampus harus hidup di dalam sistem siber itu sendiri,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa daya saing fakultas di masa depan sangat ditentukan oleh kecepatan adaptasi organisasi terhadap perubahan teknologi, tanpa kehilangan identitas nilai dan karakter kelembagaan.
“Adaptif itu penting, tetapi jangan sampai kita kehilangan jati diri. Nilai-nilai akademik, integritas, dan budaya mutu harus tetap menjadi fondasi,” ujarnya.
Pada sesi transformasi kelembagaan, Dr. Sutirman membagikan *lesson learned* dari pengalaman FEB UNY dalam melakukan reformasi tata kelola, penguatan sistem penjaminan mutu, digitalisasi layanan akademik, serta pembaruan kurikulum berbasis kebutuhan industri dan masyarakat. Transformasi, menurutnya, harus dilakukan secara sistemik—tidak parsial—dan dipimpin oleh kepemimpinan strategis yang visioner.
Dalam konteks Siber University, beliau menekankan bahwa transformasi digital bukan hanya tentang platform pembelajaran daring, tetapi mencakup integrasi data, sistem manajemen kinerja berbasis teknologi, hingga pengembangan *smart academic services* yang responsif dan efisien.
“Universitas siber harus memiliki tata kelola yang agile, berbasis data, dan mampu mengambil keputusan secara cepat namun tetap akuntabel,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya kolaborasi strategis berbasis pentahelix—yakni sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, masyarakat, dan media. Model kolaborasi ini dinilai mampu memperkuat relevansi akademik sekaligus memperluas dampak tridharma perguruan tinggi.
“Inovasi tidak lahir dalam ruang tertutup. Ia tumbuh dari kolaborasi dan keterbukaan,” ungkapnya.
Dr. Sutirman juga menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan dan *distinction* (keunikan pembeda) sebagai kunci memenangkan persaingan global. Fakultas harus memiliki keunggulan khas yang tidak mudah ditiru, baik dalam kurikulum, riset unggulan, maupun ekosistem akademik.
Sebagai penutup, beliau menggarisbawahi urgensi membangun SDM unggul di era siber. Dosen dan tenaga kependidikan harus memiliki literasi digital, kepemimpinan kolaboratif, kemampuan adaptif, serta semangat pembelajar sepanjang hayat (*lifelong learner*).
“Era siber menuntut manusia pembelajar yang tidak pernah selesai belajar. SDM unggul bukan hanya cerdas, tetapi juga tangguh, adaptif, dan berkarakter,” pungkasnya.
Hari kedua workshop ini memperkaya perspektif strategis peserta dalam merumuskan transformasi tata kelola dan inovasi akademik FEBI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menuju keunggulan berkelanjutan di era siber 2030.

